TLKM Rp2.890
Laba −20% vs Buyback & InfraNexia

3,990 3,500 3,100 2,700 Laba Turun FY2025 Lap. Tahunan 12 Mei 2026 Buyback Rp1 T Support 2.700–2.800 2.890 ▼ Agt'25 Nov'25 Feb'26 Apr'26 Mei'26 52W High 3.990 YTD −16.09% 3M −16.09%
TLKM · 26 Mei 2026
Rp2.890
▼ −3,7% MoM · −16,1% 3 bulan
52W Range
2.560
— 3.990 (high)
Laba Bersih 2025
17,8 T
▼ −20,5% YoY
Est. Yield Dividen
4,6%
▲ Base case 2026
Update 26 Mei 2026
📉TLKM berada di Rp2.890 per saham — turun sekitar 16% dalam 3 bulan terakhir dari area Rp3.600 di Februari 2026. Analis menempatkan support kunci di Rp2.700–2.800 dan resistance pertama di Rp3.050–3.100.
💼Buyback saham hingga Rp1 triliun diumumkan 1 Mei 2026, mencakup saham di BEI dan ADR di NYSE. Pelaksanaan menunggu persetujuan RUPS yang dijadwalkan 8 Juni 2026. Dana dari kas internal, tanpa pinjaman baru.
🏗️Spin-off InfraNexia fase 2 ditargetkan selesai sepanjang 2026. Total nilai aset yang dikelola InfraNexia mencapai Rp90 triliun, dengan fase 1 senilai Rp35,8 T sudah efektif sejak 1 Januari 2026.
📊TSR 2025 mencapai 35,7% meski pendapatan turun 2,2% dan laba turun 20,5%. EBITDA margin tetap solid di 50,24% — mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga.

Mengapa TLKM Tertekan?

Saham Telkom Indonesia (TLKM) mencatat tekanan signifikan sepanjang kuartal pertama dan kedua 2026. Dari level Rp3.600 di Februari, harga tergerus hingga ke kisaran Rp2.890 per 26 Mei 2026 — koreksi sekitar 19,7% hanya dalam 3 bulan. Ini bukan angka kecil untuk saham BUMN blue chip.

Akar masalahnya bersifat berlapis: laporan tahunan 2025 yang diterbitkan 12 Mei 2026 mengonfirmasi laba bersih turun 20,5% menjadi Rp17,8 triliun (dari Rp22,4 triliun di 2024), sementara pendapatan konsolidasi merosot 2,2% ke Rp146,7 triliun. Ini adalah kinerja yang meleset dari target yang dipasang manajemen di awal tahun.

⚠️ Paradoks TLKM 2026

Di satu sisi, bisnis Telkom masih menghasilkan kas operasi di atas Rp60 triliun per tahun dan EBITDA margin di 50%. Di sisi lain, laba bersih amblas 20% dan harga saham koreksi 16% dalam 3 bulan. Ini bukan krisis fundamental — ini adalah repricing akibat kombinasi tekanan kompetisi seluler, beban akuntansi, dan sentimen IHSG yang secara keseluruhan melemah 24% YTD.

Tiga Faktor Tekanan Utama

  • Tekanan Kompetisi Segmen Seluler: Pendapatan Telkomsel tertekan akibat perang harga paket data yang intensif. Pengguna makin berpindah ke aplikasi pesan instan (WhatsApp, Telegram) sehingga pendapatan SMS dan telepon konvensional terus terkikis. Pelanggan Telkomsel tercatat turun, memperburuk revenue mix.
  • Percepatan Depresiasi & Penyesuaian Akuntansi: Penurunan laba 20,5% tidak mencerminkan kerusakan bisnis — manajemen secara eksplisit menyebut percepatan depresiasi aset dan penyesuaian kebijakan akuntansi sebagai bagian penguatan tata kelola. Ini sifatnya sementara namun berdampak besar pada bottom line 2025.
  • Sentimen IHSG & Capital Outflow: Dengan IHSG ambruk 24% YTD dan asing keluar dari pasar Indonesia, TLKM sebagai salah satu saham big cap BUMN ikut terdampak aksi jual mekanis dari fund manager yang melakukan rebalancing portofolio.

Bedah Fundamental: Kuat di Operasional

Metrik20252024Perubahan
PendapatanRp146,7 TRp149,9 T−2,2%
Laba BersihRp17,8 TRp22,4 T−20,5%
EBITDA Margin50,24%~51%Stabil
Total Shareholder Return35,7%+35,7%
Debt/EBITDA Ratio1,04xTarget 0,9x
Capex/Revenue~18%Target 15–20%
InfraNexia Aset Fase 1Rp35,8 TEfektif Jan'26

Yang perlu diperhatikan: meski laba bersih turun, kas operasi Telkom tetap kuat di atas Rp60 triliun. EBITDA margin di 50,24% adalah salah satu yang tertinggi di antara operator telekomunikasi Asia Tenggara. Penurunan laba lebih bersifat accounting-driven daripada operational collapse.

Katalis Positif: Buyback, InfraNexia, Dividen

Di balik tekanan harga, ada tiga katalis yang bisa menjadi pembalik tren dalam 3–6 bulan ke depan:

1. Buyback Rp1 Triliun. Pengumuman buyback 1 Mei 2026 adalah sinyal manajemen bahwa mereka menilai saham TLKM undervalued. Dengan sumber dana dari kas internal, buyback ini tidak menambah beban utang. Jika RUPS 8 Juni menyetujui, eksekusi buyback bisa menjadi katalis kenaikan harga secara bertahap.

2. Monetisasi InfraNexia. Spin-off bisnis fiber ke InfraNexia adalah langkah strategis yang berpotensi membuka nilai tersembunyi. Dengan total aset infrastruktur Rp90 triliun yang akan dikelola InfraNexia, ada peluang besar untuk menarik investor eksternal atau IPO InfraNexia di masa depan — yang akan menjadi katalis valuasi signifikan bagi TLKM sebagai induk.

3. Estimasi Dividen Yield 4,6%. Dengan base case payout 80% dari laba Rp17,8 triliun, estimasi dividen sekitar Rp143–144 per saham. Dihitung dari harga Rp2.890, yield dividen bisa mencapai 4,9–5,0% — sangat kompetitif dibanding SBN atau deposito bank.

✅ Level Watch untuk Investor

Konsensus 17 analis merekomendasikan Buy dengan target rata-rata Rp3.813 (high Rp4.500, low Rp3.000). Upside potensial dari harga Rp2.890 mencapai +31,9%. Zona akumulasi yang diperhatikan: Rp2.700–2.800 dengan stoploss di bawah Rp2.560 (52W low).

Teknikal Singkat

Secara teknikal TLKM masih dalam tren turun jangka pendek. Harga berada di bawah MA20 dan MA50, dengan RSI di zona netral-lemah. Resistance terdekat di Rp3.000–3.050 (area psikologis + MA20), kemudian Rp3.100–3.200. Support kuat di Rp2.700–2.800 dan 52-week low Rp2.560. Sinyal reversal baru valid jika harga mampu menutup di atas Rp3.100 secara konsisten.

📡 Kesimpulan

TLKM 2026 adalah cerita tentang transformasi yang sedang berjalan: tekanan jangka pendek dari kinerja 2025 yang melemah vs. katalis jangka menengah dari buyback, InfraNexia, dan target pertumbuhan low-to-mid single digit 2026. Untuk investor value dengan horizon 12–18 bulan, level Rp2.700–2.900 menarik untuk diakumulasi secara bertahap. Update signal TLKM tersedia di Telegram kami →

← Kembali ke Semua Artikel Lihat semua artikel & news terkini Artikel Lainnya → Saham · BBCA BBCA Tertekan ke Rp5.950: Foreign Net Sell & NIM Menyusut